• Ketika pandemi itu datang…

    Waktu saya menulis ini, semua orang di seluruh dunia sedang merasakan dampak dari Covid 19, wabah penyakit menular yang dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO. Langsung maupun tidak langsung, wabah ini merubah banyak hal dalam hidup kita.

    covid19 NZ

    Di Selandia Baru sendiri, pemerintah sudah melakukan lockdown sejak 25 Maret, ketika negara dinyatakan berada di level 4, dengan makin banyaknya kasus penularan penyakit yang terjadi. Rencana awal selama 4 minggu, sampai 22 April. Tapi minggu lalu diumumkan kalau lockdown diperpanjang, sampai 28 April. Besok.

    Iya, hari ini hari terakhir lockdown di NZ. Besok udah di level 3. Lalu dilihat 2 minggu lagi, apakah keadaan membaik dan bisa turun lagi ke level 2.

    Saya nggak telaten menulis setiap hari apa yang saya lakukan dan kerjakan selama lockdown. Sama nggak telatennya dengan posting setiap hari di sosmed. Jadi saya rangkum aja semuanya dalam tulisan ini, yang semoga bisa saya baca lagi nanti. Ketika (semoga) Covid 19 sudah mereda, dan kita bisa kembali ke rutinitas sebelumnya. Untuk mengingatkan saya, bahwa tidak ada yang abadi. Baik itu kemudahan maupun kesusahan. This too shall pass. Walaupun mungkin, pada saat itu hidup sudah banyak berubah.

    Saya masih ingat ketika pemerintah mengumumkan lockdown dan menutup semua kantor, sekolah, fasilitas umum seperti kolam renang, perpustakaan dan lain-lain.

    Hari Sabtu, 21 Maret, rutinitas kami masih berjalan seperti biasa. Anak-anak les renang, lanjut brunch di cafe dekat kolam renang, lalu ke perpustakaan. Rutinitas Sabtu yang selama ini kami anggap biasa. Siapa sangka, Senin minggu depannya semua berubah.

    Sebelum lockdown. Perpustakaan sudah mulai dibatasi pengunjungnya, Tapi masih buka

    Sebelum lockdown. Perpustakaan sudah mulai dibatasi pengunjungnya, Tapi masih buka

    Senin, 23 Maret, sore, pemerintah mengumumkan negara di level 3. Dan akan masuk ke level 4 pada hari Rabu lusa. Sejak Senin sore, kantor dianjurkan untuk tutup. Sekolah juga. Saya ingat ada beberapa supermarket yang sempat rush karena orang-orang langsung serentak menuju ke sana. Untungnya tidak sampai rusuh. Persediaan hand sanitizer, tissue toilet (iya, bener tissue toilet), dan tepung terigu jadi langka. Sebagai orang yang lebih menggantungkan diri berbersih dengan air, dan nggak terlalu banyak pakai tissue toilet, kami aman.

    Sejak Selasa saya kerja dari rumah. Suami saya, IT professional, memang kerja remote yang sehari-hari selama ini juga kerjanya dari rumah. Radit dan Rania mulai sekolah dari rumah juga. Dan saya stress!

    Minggu pertama jauh dari lancar. Kerjaan kantor yang banyak angka dan data, biasanya saya kerjakan dengan 2 layar lebar komputer. Sekarang hanya bermodalkan laptop layar kecil. Kalau soal mata, umur emang nggak bisa bohong ya 🙂

    Ditambah dengan anak-anak yang tidak berhenti bertanya dan harus dijawab saat itu juga. Sangat mengganggu konsentrasi saya.

    Kalau lagi rukun, akur main berdua

    Kalau lagi rukun, akur main berdua

    Belum lagi restoran dan take away yang wajib tutup, jadi mau nggak mau saya musti masak setiap hari.

    Tambah lengkap kalau pas anak-anak mulai berantem. Duh!

    Kalau anak-anak lagi libur, saya bisa menyepi ke sini. Lebih bisa konsentrasi.

    Kalau anak-anak lagi libur, saya bisa menyepi ke sini. Lebih bisa konsentrasi.

    Jangan salah. Saya nggak masalah ngajarin anak-anak. Sebelum anak-anak mulai masuk usia sekolah, di rumah saya buat banyak aktivitas ala-ala homeschooling. Masak juga saya suka. Kitchen time is my me time. Tapi menggabungkan semuanya sekaligus: kerja full time, kerjaan rumah tangga, ngajar anak-anak. I am not a super woman.

    Untungnya, kantor saya sangat pengertian. Saya jauh lebih tenang ketika CEO kantor saya berkali-kali mengingatkan kami. Yang terpenting saat ini adalah kesehatan. Mentally and physically. We are not working from home. But we are at home, trying to work. Don’t try to compare your current productivity with before, also with others. Pheewww!

    Once I let go of my expectations, I am OK.

    Ini saya akhirnya pinjem monitor computernya suami. Rania sama saya. Radit sama bapaknya. Bagi tugas :)

    Ini saya akhirnya pinjem monitor computernya suami. Rania sama saya. Radit sama bapaknya. Bagi tugas 🙂

    Dan jujur, waktu saya nulis ini, saya sudah dalam tahap menikmati lockdown time. Buat orang yang nggak bisa diem dan suka sok kebanyakan urusan kayak saya, saya juga nggak nyangka bisa betah diam di rumah selama 5 minggu. Saya cuman keluar nggak sampai 5 kali, itu juga untuk jalan di sekitaran rumah ketika cuaca bagus. Untuk grocery dll saya belanja online.

    Copy of IMG_20200404_131801

    Jalanan yang sepi selama lockdown

    We are going on a bear hunt. Program yang dibuat oleh masyarakat NZ untuk menghibur anak-anak yang nggak bisa kemana-mana.

    We are going on a bear hunt. Program yang dibuat oleh masyarakat NZ untuk menghibur anak-anak yang nggak bisa kemana-mana.

    Anak-anak memang jadi lebih banyak screen time dibanding biasanya. Tapi prioritasnya sekarang adalah mereka sehat. Soal pelajaran sekolah, mereka bisa catch up nanti. Dan mumpung kita semua lagi ada di rumah, saya bisa sekalian ngajarin anak-anak beberapa life skills yang menurut saya bakalan berguna untuk mereka nanti.

    Selama lockdown 5 minggu ini, anak pertama saya, alhamdulillah udah mulai bisa dilepas masak sendiri. Awal-awalnya emang nanya melulu. Gimana cara iris bawang. Dimana ini, dimana itu.

    Persiapan ngiris bawang. Pakai kacamata renang :D

    Persiapan ngiris bawang. Pakai kacamata renang 😀

    Kalau yang ini tutup mata pake hijab Mama. Masih keliatan katanya ;)

    Kalau yang ini tutup mata pake hijab Mama. Masih keliatan katanya 😉

    Walaupun masih dengan paketan langganan dari foodbag yang bahan-bahan dan resepnya sudah disediakan. Walaupun waktu memasak yang 30 menit di resep jadi 2 jam. Walaupun rumah jadi lebih berantakan. But it’s a good start, I think.  Nanti tinggal di up grade! 😉

    Preparing for dinner

    Preparing for dinner

    Saya sengaja pilih foodbag yang vegetarian. Dengan masak sendiri, anak-anak jadi lebih mau makan masakannya, aka sayur! :)

    Saya sengaja pilih foodbag yang vegetarian. Dengan masak sendiri, anak-anak jadi lebih mau makan masakannya, aka sayur! 🙂

    Ada beberapa craft dan science projects yang saya kerjakan bareng anak-anak. Lumayan buat ngisi waktu mereka. Walaupun setelah itu ya back to screen 🙂

    Salah satu project yang kita kerjakan: tie dye tshirt

    Salah satu project yang kita kerjakan: tie dye tshirt

    Which one is your favorite?

    Which one is your favorite?

    Saya juga berhasil menyelesaikan baca beberapa buku yang selama ini belum sempat saya baca. Parahnya, ada beberapa buku yang bahkan saya bawa dari Oman, waktu kami pindahan lebih dari 5 tahun lalu, dan belum juga sempat saya baca.

    Beberapa buku yang akhirnya saya baca :D

    Beberapa buku yang akhirnya saya baca 😀

    Decluttering, proyek lama yang nggak kelar-kelar. Sedikit bisa saya cicil. Semua ditumpuk jadi satu di dalam mobil, sambil menunggu landfill buka lagi, Rabu lusa 🙂 Setelah itu ada beberapa box juga yang  bakalan dikirim ke second hand/charity shop. Nanti kalau mereka sudah buka.

    Kami juga bisa membereskan kebun yang lama terbengkalai. Nothing beats Wellington on a good day, with its perfect weather for gardening.

    Salah satu pojok garden yang berhasil diberesin

    Salah satu pojok garden yang berhasil diberesin

    My succulents corner, where dinosaurs and gnomes live together peacefully :)

    My succulents corner, where dinosaurs and gnomes live together peacefully 🙂

    Ini succulents corner yang lain. Di bawah rumah tempatnya. Have I told you that I am crazy about succulents? :D

    Ini succulents corner yang lain. Di bawah rumah tempatnya. Have I told you that I am crazy about succulents? 😀

    Pojok yang lain lagi. Full of weeds

    Pojok yang lain lagi. Full of weeds

    Setelah bersih dari weed, jadi enak deh buat tempat makan.

    Setelah bersih dari weed, jadi enak deh buat tempat makan.

    Saya juga jadi ada waktu untuk nyobain resep-resep baking dan cooking baru. Sejak balik kerja full time, sibuk dengan beberapa kegiatan masyarakat, jadi nggak ada waktu untuk baking. I forgot how therapeutic it can be for my soul.

    Punya buku resep Gordon Ramsay udah lama, tapi belum dicoba satupun. Ini akhirnya kesampean nyobain, orange curd layer pudding

    Punya buku resep Gordon Ramsay udah lama, tapi belum dicoba satupun. Ini akhirnya kesampean nyobain, orange curd layer pudding

    Cakwe, yay!

    Cakwe, yay!

    Saya juga sempat diwawancara TV tentang Covid 19 di Wellington. Ada satu lagi majalah wanita kenamaan yang wawancara, tapi nggak tau jadi publish apa nggak 😉

    TVRI

    TVRI

    TVOne: Bersatu Melawan Corona

    TVOne: Bersatu Melawan Corona

     

    Hari ini memang hari terakhir kami lockdown di NZ. Tapi nggak ada jaminan sampai kapan Covid 19 ini akan berlalu. Level 3 akan sama seperti level 4. Kerja tetap dari rumah. Anak-anak juga masih belajar dari rumah. Tapi bisnis sudah mulai boleh buka. Dengan online delivery dan pick up only.

    Buat saya pribadi, Covid 19 ini mengajarkan saya banyak hal.

    Bukan cuma diberi keluangan waktu untuk mengerjakan apa-apa yang selama ini terbengkalai, tapi juga mengingatkan lagi prioritas hidup yang selama ini terbolak-balik. Ketika dunia penuh ketidakpastian, kita tahu siapa yang Maha Pasti.

    Di saat krisis dan banyak orang kehilangan pekerjaan, alhamdulillah pekerjaan saya dan suami baik-baik saja. Dengan lockdown 4 minggu dan nggak bisa kemana-mana, pengeluaran malah berkurang drastis. Ketauan kan, selama ini pengeluaran kami emang banyak tersiernya. Untungnya suami sependapat dengan saya, ini bukan saatnya untuk menabung. Kita bantu yang membutuhkan dengan apa yang kita bisa. Tapi yang belum punya dana darurat, janji ya, setelah huru-hara ini selesai, musti mulai ngumpulin. Hopefully we all can get through this together.

    Ada beberapa rencana traveling yang harus kami reschedule. Entah sampai kapan, padahal sudah sangat kami nantikan sejak tahun lalu. Tapi nggak apa. Masih banyak hal lain yang bisa kami syukuri.

    Masih ada beberapa projects di rumah yang musti diselesaikan.

    Mumpung masih ada waktu.

    Mumpung kita sehat.

    Meanwhile,

    Hope you all enjoy the new routines and the new world we live in.

    Take care

     

     

     

     

2 Responsesso far.

  1. Betariko says:

    Ketika pandemi datang…
    Kuliah online..sedot kuota…
    Upload tugas sana sini (numpang)…
    kadang gak keabsen…
    Tugas makin banyak dari biasanya… 😀

  2. d3d3k says:

    hahahha iya ya, quota internet yang berasa bgt. Tapi itung-itung gantiin budget transport 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *