Privilege Tanpa Label Harga

Pernah tidak mendengar komentar “Ah, dia mah enak. Dari lahir udah tajir melintir. Penuh privilege banget hidupnya. Pantesan sekarang sukses.” Pasti sering ya. Privilege sering kali disamakan dengan harta dan kekayaan materi. Padahal, dalam kenyataannya, ada banyak bentuk privilege lain yang mungkin lebih berharga dan tidak selalu terlihat di permukaan.

Apa arti privilege sebenarnya?
Privilege adalah hak istimewa, atau keuntungan spesial yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok, dan tidak dimiliki oleh orang lain.
Privilege tidak selalu identik dengan kekayaan finansial. Meskipun keberuntungan materi tentu memiliki perannya sendiri, namun ada banyak aspek lain dalam kehidupan yang merupakan privilege bagi yang memilikinya. Pertanyaannya adalah, apakah kita bisa mengenali dan memanfaatkan privilege yang kita miliki dengan bijak? Dan apakah tidak memiliki sesuatu yang kita anggap sebagai privilege, membuat kita menjadikannya alasan untuk pasrah meratapi nasib dan tidak berbuat apa-apa?

Buat saya pribadi, yang lahir bukan dari keluarga yang bergelimang harta, tapi cukup alhamdulillah, mungkin saya tidak akan pernah mengerti privilege macam apa yang didapatkan orang-orang yang lahir sudah kaya raya. Tapi saya bersyukur, privilege yang saya dapatkan jauh lebih berharga daripada gelimang harta benda yang menurut sebagian orang adalah ‘privilege’ itu.

Keluarga saya tidak bergelimang harta. Tapi berlimpah perhatian dan kasih sayang. Orangtua saya adalah dua orang pekerja keras yang rela mengorbankan apapun untuk kami, kelima anaknya. Sebagai pengusaha merangkap petani yang merangkak dari bawah, kami menyaksikan perjuangan kedua orang tua dalam menghidupi kami sekeluarga. Berusaha memberikan yang terbaik untuk pendidikan anak-anaknya, karena mereka percaya pendidikan lah yang akan mampu menaikan derajat dan memperbaiki kehidupan kami.

Beranjak dewasa, punya kakak adik yang saling mendukung dan kompak, sekali lagi menjadi privilege tak ternilai untuk saya. Berbeda pendapat tentu pernah. Lima kepala dengan pemikiran dan sifat yang berbeda dan sebagian besar keras kepala, tentu tidak gampang untuk disatukan. Tapi satu yang saya syukuri, semua perbedaan pendapat yang terjadi tidak membuat kami berantem berlarut-larut. Kami tetap saling dukung sebagai kakak beradik. Bahkan saling ikut membantu dan menjaga keponakan dari saudara kami yang lain. Mendengar cerita teman yang keluarganya tercerai berai karena rebutan harta dan sejenisnya, lagi-lagi membuat saya bersyukur.

Tak terhitung banyaknya cobaan yang pernah menimpa keluarga kami. Sebagai pengusaha, orangtua saya mengalami jatuh bangun, ditipu orang hingga bangkrut, berkali-kali banyaknya. Sebagai anak, kami terbiasa mencari uang sendiri untuk membayar kuliah dan biaya hidup lain. Satu keahlian lain lagi yang buat saya sangat menguntungkan dan mungkin tidak akan saya punya kalau saya lahir sudah bergelimang harta. Saya jadi lebih tahan banting, tidak malu dan gengsi kalau harus jualan. Juga jadi lebih kreatif dan jeli melihat berbagai peluang untuk menghasilkan uang.

Setelah menikah, privilege saya makin bertambah, dengan mempunyai suami yang sangat mendukung dan mengerti kalau istrinya ini tidak bisa diam. Walaupun segala aktivitas saya seringkali membuat suami saya ikut repot berjibaku mengatur waktu antara tugas domestik dan pekerjaannya. Harap maklum, karena tinggal jauh dari keluarga dan tanpa pembantu, kami memang harus mengandalkan satu sama lain untuk menyelesaikan semua tugas dan kewajiban rumah tangga, termasuk mengurus anak-anak.

Banyak dari kita yang terpaku pada privilege berupa materi dan melupakan privilege lain yang mungkin kita miliki tanpa kita sadari. Kesehatan, lingkungan yang baik, teman dan keluarga yang mendukung, bisa pergi bersekolah dengan transportasi yang memadai, pekerjaan yang fleksibel, fisik yang sempurna dan tidak cacat dan banyak hal lain. Mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya, tetapi pengalaman hidup kita akan sangat berbeda dari orang lain hanya karena faktor-faktor tersebut. Dan pengalaman hidup yang kita alami adalah privilege tambahan lain yang makin memperkaya hidup kita.

Kalau boleh memilih, antara punya harta berlimpah atau keluarga yang hangat dan kompak, tentu saya akan memilih yang kedua. Harta yang jauh lebih berharga dan modal yang tidak ternilai dalam menjalani kehidupan. Dalam situasi sulit atau ketika menghadapi tantangan besar, memiliki keluarga yang mendukung adalah tiang penyangga yang membuat perjalanan dan cobaan hidup terasa lebih ringan.

Recommended Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *