• Racun mental itu bernama sosial media

    Seingat saya, saya mulai mengenal sosial media itu sejak jaman Friendster. Atau ada lagi ya yang lebih awal dari itu? Saya juga lupa. Yang saya ingat, waktu itu Friendster sempat booming. Dari situs itu, yang paling seru dan masih saya ingat adalah testimoni teman-teman tentang diri kita. Juga yang nggak kalah pentingnya, bisa lihat status orang lain, untuk kemudian jadi bahan gosip haahaha…! 😁 Dari yang mulai publikasi waktu jadiannya, lalu putus, lalu in a relationship lagi. Kalau udah posting di Friendster, berarti siap dengan segala resikonya. Termasuk status saya sendiri 😁😅

    Lalu Friendster berangsur menghilang, kalah pamor dengan Facebook. Ada lagi YouTube, Twitter, Path, SnapChat, Instagram, Google+, LinkedIn, Pinterest, Tumblr, Vine, Snapchat and Reddit. Sekarang ditambah tiktok. Berapa banyak dari daftar di atas yang Anda tau dan punya akunnya? Semakin lama, sosial media memang sudah menjadi bagian penting dalam hidup. Kalau kata anak jaman now, social media is lyfe. Pada tahun 2019, ada sekitar 3.48 milyard orang yang menggunakan sosial media, menurut situs We Are Social.

    Saya pribadi punya beberapa akun sosial media. Yang masih aktif sampai sekarang hanya 2, Facebook dan Instagram. Pinterest dan LinkedIn hanya sesekali saya pakai.

    Buat saya, Facebook berguna sekali untuk menjalin silaturahmi dengan teman-teman dan keluarga. Maklum, sudah 11 tahun ini kami merantau, jauh dari keluarga dan teman-teman. Itu pun pindah-pindah juga. Jadi penting untuk punya saluran guna menjaga silaturahmi. Saya juga senang bergabung dengan banyak group di Facebook. Di sana saya bisa belajar banyak. Kalau lihat Facebook groups yang saya ikuti, lebih dari 60 groups itu random sekali isinya. Mulai dari personal finance, properti sampai group masak. Ada yang sangat aktif, ada yang sesekali. Tapi semuanya sumber informasi dan belajar yang sangat berguna untuk saya.

    Sedangkan Instagram lebih saya gunakan untuk berbagi beberapa hal yang semoga bisa berguna untuk yang lain, seperti sharing soal perencanaan keuangan dan resep makanan. Saya juga mengikuti orang-orang/akun yang tidak saya kenal, tapi berbagi banyak informasi berguna.

    Social media memang mengasyikan. Sayangnya kita terkadang tidak sadar kalau kegiatan scrolling social media yang sepertinya menyenangkan itu sesungguhnya membahayakan kesehatan mental kita.

    Ada satu hasil studi dari American Academy of Pediatrics yang isinya merupakan peringatan tentang pengaruh buruk sosial media bagi remaja dan anak-anak. Termasuk di dalamnya adalah cyber-bullying dan “Facebook depression.” Ternyata pengaruh buruk ini tidak hanya dialami anak dan remaja, tapi resiko yang sama mungkin juga dihadapi oleh orang dewasa pengguna media sosial.

    Sebuah penelitian lain dari Swansea University juga menyatakan bahwa sosial media menimbulkan ketergantungan bagi para penggunanya. Menurut penelitian tersebut, orang-orang yang terlalu bergantung dengan peralatan digital, termasuk sosial media, didapati mengalami anxiety ketika distop penggunaannya. Parahnya, pengaruh psikologis tersebut kemudian lambat laun berpengaruh juga terhadap perubahan fungsi bermacam organ tubuh.

    Secara kasat mata, sosial media seperti memenuhi kebutuhan para penggunanya untuk saling terhubung dan menjalin interaksi sosial. Tapi pada kenyataannya, beberapa penelitian menunjukan bahwa penggunaan sosial media yang berlebihan justru membuat seseorang merasa terisolasi.

    Penelitian dilakukan kepada para pengguna 11 sosial media yang ada, dan hasilnya menunjukan bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan seseorang di social media, maka semakin mereka merasa terisolasi. Perasaan terisolir ini muncul karena sadar atau tidak sadar, kita suka membandingkan diri kita dengan orang lain yang kita lihat di halaman sosial media kita.

    Ada satu study lain yang menunjukan bagaimana kita membandingkan diri kita dengan orang lain, dengan skala lebih baik atau lebih buruk. Dua type perbandingan yang seperti ini, tidak hanya lebih baik saja, ternyata menimbulkan perasaan tidak nyaman dan terisolir dari lingkungan sekitar. Dan perasaan terisolir ini sangat berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental kita.

    Hal ini berbeda sekali dengan interaksi sosial secara fisik yang terbukti ampuh meningkatkan well-being seseorang.

    Kondisi mental kita juga sangat terpengaruh oleh apa yang kita lihat, dengar, dan baca. Jika setiap hari terus dibombardir dengan hal-hal negatif, pola pikir dan emosi kita pun akan menjadi negatif. Siapa yang pernah jengkel, bahkan emosi tingkat tinggi setelah membaca postingan seseorang di sosial media? Anda tidak sendiri, karena sudah banyak penelitian dan bukti ilmiah yang membuktikan tentang hal ini.

    Demikian pula sebaliknya, jika kita lebih sering membaca, melihat, mendengar, atau dikelilingi hal-hal yang positif, maka pola pikir kita pun akan positif juga. Yang akhirnya menjadikan tindakan kita menjadi lebih positif dan bermanfaat.

    Waktu Pilpres dan Pilkada beberapa tahun lalu, beranda Facebook saya juga penuh dengan caci-maki dan hujatan berbagai kelompok yang saling menyerang kelompok lain yang berbeda pendapat dengan mereka. Daripada saya jadi terkontaminasi aura negatif mereka, saya unfriend saja yang saya tidak terlalu kenal. Sedangkan yang kenal, saya unfollow. Saya merasa berhak untuk menentukan orang-orang macam apa dan bagaimana yang saya persilahkan ‘masuk’ dalam beranda Facebook saya.

    Toh, makin banyak teman di social media bukan berarti membuat kita punya kehidupan sosial yang lebih baik. Ada penelitian yang menunjukan bahwa otak manusia memiliki kapasitas maksimal untuk menerima dan menjaga pertemanan. Dan untuk itu, dibutuhkan interaksi sosial secara fisik, tidak hanya virtual saja. Manusia tetap membutuhkan dukungan sosial yang nyata yang hanya bisa didapatkan dari teman-teman sejati. Pertemanan virtual tidak memiliki pengaruh positif yang sama dengan pertemanan sungguhan.

    Walau pun demikian, bukan berarti tidak ada pengaruh positif dari sosial media. Ada banyak inspirasi dan tambahan keahlian dan pengetahuan baru yang bisa saya dapatkan dari sosial media, selain tentu saja menjaga tali silaturahmi dan menambah teman baru. Awalnya teman virtual, lalu kemudian berubah jadi teman beneran.

    Ibarat tubuh yang setiap hari makan, sesekali kita perlu puasa juga kan? Begitu juga dengan sosial media. Mungkin bisa dicoba, istirahat beberapa waktu dari Facebook. Dan rasakan pengaruhnya. Saya pernah, dan rasanya memang melegakan sekali. Seperti detox pikiran.

    Jadi, sudah perlukah Anda untuk detox social media?

    Selamat merenung 🙂

2 Responsesso far.

  1. Renov says:

    Keren artikelnya. Saya juga baru aja minggu ini membaca hubungan antara sosial media dan kebahagiaan seseorang.
    Detox Medsos ini sering banget saya lakukan terutama kalau pusing karena terlalu banyak informasi yang masuk, baik itu dari medsos, televisi, koran, dll juga karena kadang emang malas nyempetin waktu buat buka. Targetnya 15 menit buka, bisa 1,5 jam masih scrolling.

  2. Thessa says:

    Sosmed memang ibarat pisau bermata dua, bisa positif dan negatif. Saya pribadi suka sosmed karena saya senang walau jarang bs bertemu, tapi tetap bisa ngeliat kondisi teman2 dan keluarga2. Apalagi kaya waktu lebaran, sosmed penuh sama foto2 keluarga, rasanya senaaang aja liatnya. 😍

    Kalau masalah toxic people, memang paling bagus di unfollow aja mba. Aku pas pilpres timeline ga banyak terganggu krna aku lngsng bersih2 kalau ada yg muncul kayak gt 😁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *