Logam mulia vs deposito untuk biaya masuk SD

education-fee-300x200

Dulu waktu saya hamil anak pertama (Radit, sekarang 6 tahun), kami sudah mulai menabung untuk biaya masuk sekolahnya (dari TK sampai kuliah). Karena biaya sekolah makin lama makin mahal, dan buat kami pendidikan anak adalah yang utama, jadi alokasi dananya harus diperhatikan betul.

Sekarang, alhamdulillah di New Zealand sekolah negeri gratis, kalaupun ada donasi juga tidak seberapa. Dan dengan kualitas dan fasilitas yang juga bagus, jadi kami nggak merasa perlu untuk memasukan anak-anak ke sekolah swasta. Dana yang tadinya ditabung untuk masuk TK dan SD jadi masih aman, belum dipakai.

Lihat di sosmed bulan Juli lalu, teman-teman ramai mengantar anak masuk sekolah hari pertama. Sangat berkesan pasti, buat orangtua dan buat anaknya. Dan saya jadi inget lagi. Kalau kami masih tinggal di Indonesia, seharusnya tahun ini Radit masuk SD. Sekarang bulan Oktober/November, ramai lagi di sosmed karena sekolah banyak yang lagi open house buat tahun ajaran mendatang. Saya jadi inget lagi mau nulis artikel ini 😀 Cukup nggak ya dana pendidikan yang kami tabung 5 tahun lalu itu?

Untuk biaya masuk SD, waktu itu kami berpatokan pada satu sekolah di Jakarta Selatan yang reputasinya cukup bagus. Sekolah umum, dengan kurikulum nasional plus. Waktu itu (tahun 2009) saya sempat survey biaya masuk SDnya, kira-kira 30 juta rupiah (tahun 2010 saya sempat cek jadi 31.5 juta). Jadi begitu tabungan udah cukup sekitar 30 juta (nabungnya pakai sistem autodebet yang banyak di bank itu, biar dipaksa disiplin), langsung kami belikan logam mulia. Bukan buat investasi, tapi lebih sebagai pelindung nilai saja. Kalau uang 30 juta itu kami tabung di deposito, misal, belum tentu uangnya tahun ini cukup untuk biaya masuk SD. Bisa-bisa kurang karena tergerus inflasi.

DSC_3247Ini saya masih simpan notanya. Juli tahun 2010, harga emas LM Rp 350 ribu per gram.

Kalau dipakai untuk bayar uang masuk SD, harusnya dibayarkan pada sekitar bulan Mei – Juni (bener nggak ya? Ini info berdasarkan website SD yang dulu kami incar untuk sekolah Radit. Maaf kalau ternyata beda-beda ya waktunya). Berdasarkan info dari situs berita ini, tanggal 1 Juni, buyback logam mulia sekitar Rp 500 ribu per gram (buletin aja, biar gampang, sebenarnya Rp 499 ribu).  Harga logam mulia simpanan buat uang bangunan SD yang tadinya 35 juta, tahun ini jadi Rp 50 juta.

Saya coba email ke sekolah SD yang dulu jadi patokan kami itu, untuk menanyakan berapa uang masuk SD tahun ini. Biayanya sekarang naik menjadi sekitar Rp 35-40 juta rupiah. Sekolah ini kebetulan memang uang masuknya tiap tahun naik tidak terlalu drastis. Ada juga lho sekolah yang tiap tahun kenaikan uang pangkalnya bikin jantungan. Alhamdulillah, cukup seharusnya ya. Sisa malah, 10 juta. Bisa buat jalan-jalan #eh.

Iseng ngitung kalau uang Rp 35 juta itu kami masukan deposito. Bunga deposito rata-rata sekitar 5-7% per tahun (untuk deposito di bawah Rp 100 juta). Asumsi kita ambil tengahnya saja, 6% per tahun. Total uang kita pada tahun 2015 jadi sekitar Rp 44.700.000 (setelah dipotong pajak deposito, dan asumsi 5 tahun deposito – seharusnya 5 tahun kurang beberapa bulan). Masih cukup juga sih ya kalau buat masuk sekolah yang itu tadi. Tapi peningkatannya tidak sebesar kalau dibelikan logam mulia.

Untuk uang pangkal masuk SMP sampai kuliah Radit, (dulu) kami nyicil nabung dikit-dikit di reksadana (beragam, dari pasar uang sampai saham, tergantung jangka waktunya). Tapi sejak pindah ke Oman, reksadananya terbengkalai. Sekarang baru mau aktif lagi hehehe…Nanti saya bandingkan lagi ya, masih cukup nggak (6 tahun lagi insha Allah).

Kalau ibu-ibu yang lain, kemana investasi dana pendidikan anaknya? Please share juga dong 🙂

PS:

Saya pernah nulis soal biaya pendidikan anak ini di sini dan di sini.

Soal financial planning, bisa dibaca di sini.

Follow my next blog post by email


Recommended Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *