• nostalgi(L)a

    Gara-gara (baru) baca The Secret Life of Bees, plus nonton ‘Jersey Girl’, ditambah hormon hamil dan demam foto-foto lama di Facebook, saya jadi teringat banyak hal jaman dulu kala. Banyak yang udah lupa juga sih πŸ˜‰ Tapi jadi kepikiran untuk menulis sebagian cerita hidup saya. Yah, minimal buat dibaca anak saya kalau dia besar nanti. Biar dia tau cerita ibunya juga πŸ˜‰ Dari saya langsung, dan punya pendapat sendiri tentang saya. Apapun itu. Bukan dijejali pendapat orang-orang.

    Dan karena saya cuman tahu menulis sebagai sarana menyampaikan apapun yang ingin saya sampaikan SEKARANG untuk dibaca NANTI, jadi ya blog inilah yang jadi sarana :D. Yang tidak terlalu privacy, tentu. Yang privacy? Saya tulis di tempat lain, maaf, bukan konsumsi publik πŸ˜‰ Jadi mulai sekarang blog ini isinya juga akan ada nostalgi(L)a pengalaman saya. Nggak ada kronologis waktu, yang kebetulan saya ingat, akan saya tulis. Ini untungnya punya blog sendiri, suka-suka mau nulis apa hehehe

    September 2002

    Saya lulus S-1 dari FEUI jurusan Studi Pembangunan, konsentrasi Ekonomi Sumber Daya Alam. 5 tahun kuliah. Banyak cerita, yang mungkin akan saya ceritakan lain waktu. Ada tawaran untuk kerja di sektor swasta, tapi saya lebih memilih kerja di NGO lingkungan hidup, Conservation International. Saya udah mulai jadi volunteer kemudian jadi staf temporer di situ dari tahun 2001 (atau 2000, lupa!). I like the job, the people, the environment. Sambil kerja, saya udah niat, mau sekolah lagi. Kemana? Tujuannya Eropa. Saya nggak suka USA (maaf buat yang suka…tapi itu benua terakhir yang saya minati untuk kunjungi, kalau sudah tidak ada benua-benua lain yang bisa dijelajahi ;)). Saya mau kuliah, sambil jalan-jalan (kenyataan yang kemudian terjadi adalah jalan-jalan sambil kuliah, hahaha!). Europe isΒ  heaven for backpacker. I must go there! Negara apa? Jerman – saya nggak bisa bahasanya. Prancis – idem! Saya cuman bisa bahasa Inggris. Jadi pilihan makin sempit, Belanda (yang memang banyak punya program berbahasa Inggris, dan penduduknya juga terbuka berbahasa Inggris) atau Inggris. Mulai cari-cari info. Apply STUNED (beasiswa untuk ke Belanda) dan Chevening (beasiswa untuk ke Inggris).

    Ada perbedaan antara dua beasiswa itu. Kalau STUNED, kita apply ke universitasnya dulu. Baru setelah universitas menerima kita, acceptance letternya kita gunakan sebagai salah satu syarat mendaftar beasiswa. Kalau Chevening, daftar beasiswanya dulu, baru cari universitasnya. Mulailah saya sibuk cari info sekolah di Belanda. Saya pengen belajar kebijakan, public policy. Entah mengapa, dengan kenaifan saya waktu itu, menurut saya cara terbaik untuk memperbaiki dan memberi sumbangsih untuk negara tercinta ini adalah dengan ‘mengotak-atik’ para policy makernya…Once we have a good policy, dunia akan aman tenteram dan damai πŸ™‚ Nggak ada rakyat kekurangan sembako, susah bayar uang sekolah, sakit nggak bisa bayar obat dll. Oh, I was young…(PS: akhir-akhir ini saya lebih suka kerja di grassroot level euy daripada di tataran kebijakan. Bikin frustasi dan emosi hehehe)

    Setelah browsing, di Belanda, (waktu itu) hanya ada dua universitas yang menawarkan program Public Policy. University of Leiden (di Leiden) dan Institute of Social Studies (ISS – di Den Haag). University of Leiden sudah sering saya dengar. Pusatnya study tentang hukum. ISS? Naon? Waktu itu saya cuman membandingkan silabus kedua universitas itu, dan saya kok lebih tertarik dengan ISS. Programnya Public Policy and Management. Saya waktu itu nggak tau, ternyata ISS itu terkenal kalau di kalangan development workers. Spesialisasinya memang development studies, ilmu yang saya suka. Saya juga nggak tau kalau Den Haag adalah kota cantik yang elegant sekali, dan yang paling penting, dekat dari mana-mana, jadi mempermudah saya ketika (kemudian) jalan-jalan. Semuanya mengalir begitu saja. Saya pilih apa yang saya mau, mengikuti kata hati. Ah, saya memang berhutang banyak pada ‘kata hati’ saya. Impulsive? Biarlah…toh selama ini no harm done πŸ™‚

    Saya daftar. Tadinya tetap mau daftar keduanya (Leiden dan ISS), untuk jaga-jaga. Soalnya persyaratan pengalaman kerja saya belum cukup. Walaupun udah kerja mulai dari bangku kuliah, tapi saya kan lulus belum 1 tahun? Bidang study itu diperuntukkan untuk level menengah ke atas dalam pemerintahan dan manajemen. Bukan kuli kroco yang hobinya masih main dan cengengesan seperti saya. Iseng, ya coba aja, toh nothing to loose. Tapi yang Leiden akhirnya saya nggak daftar (lupa kenapa…me and my -sometimes- bad memories)

    Maret 2003

    Kok saya belum dapet juga pemberitahuan apakah saya diterima atau tidak? Teman saya yang daftar bareng udah dikabarin, dan diterima. Nekad, saya telpon ke bagian admissionnya ISS. Jawabannya melegakan: saya diterima, tapi email yang isinya acceptance letter saya ternyata bounce, mungkin karena filenya terlalu besar, jadi ditolak server kantor. Saya beri account email lain. 2 hari kemudian, yes, I got my acceptance letter! Yupiiieee!

    Saya inget bangeut deadline STUNED itu akhir Maret (selalu akhir Maret setiap tahun), jadi mulailah saya sibuk buat segala macem. Motivation letter why they should accept me, why Netherlands, why development study, why public policy, recommendation letter, dan segala perintilan lain. Akhir Maret, pas d-day deadline, saya submit aplikasi saya (me and deadline :P)

    Ibu saya sedang sakit keras waktu itu. Kanker mulut rahim. Opname di RS berbulan-bulan, saya dan adik-kakak saya juga gantian nginep. Pergi dan pulang kantor dari RS. Mitra Keluarga, Medistra, terakhir Dharmais. Ibu saya dari dulu nggak setuju saya sekolah ke luar negeri. Setelah beliau meninggal, baru bapak saya bilang alasannya. Takut saya kawin sama bule, dan dibawa keluar Indonesia. Hahahaha, what a reason! (tapi hampiiirrrr ya Ma hihihi :p). Herannya, waktu sakit, beliau sudah mulai merestui keinginan saya untuk cari sekolah di luar negeri.

    Mei (atau Juni – lupa) 2003

    Saya dapet berita kalau saya tidak diterima STUNED. Saya memang sudah siap. Coba lagi tahun depan. Toh, acceptance letter di ISS berlaku untuk dua tahun. Saya juga belum 1 tahun lulus. Umur 24 tahun. Ditambah ibu saya sakit. Yah, memang bukan tahun ini.

    8 Juli 2003

    Ibu saya meninggal. Itu kehilangan terbesar pertama yang pernah saya rasakan. Tapi saya bersyukur, Mama bisa lepas dari penyakitnya. Bisa kembali ke Sang Maha Segala, yang pasti bisa merawat Mama jauh lebih baik dari kami semua di sini (I wrote once, a really long one, about my mom. Mau publish, pas baca, nangis lagi. Jadi ya nggak tau dimana sekarang. Ntar saya cari lagi kalau masih ada hehehe)

    Kira-kira 8-10 hari setelah ibu saya meninggal, dan saya kembali ke Jakarta (ibu saya dimakamkan di Lampung), ada telpon dari STUNED. Saya dapet kesempatan untuk interview lagi. Mereka mempertimbangkan aplikasi saya! Aneh bangeut! Kan saya udah ditolak? Tapi ya saya jalani saja.

    Beberapa hari, keluar hasilnya. Saya diterima! Full scholarship to ISS! Leaving Indonesia on August! Ternyata mereka menghitung juga pengalaman kerja saya selama kuliah, yang memang sudah saya jalani 3 tahun lebih.

    Saya udah nggak ngerti apa perasaan saya waktu itu. Campur baur. Sedih karena Mama. Senang, excited, nervous, bingung, ambil nggak ya? Saya meninggalkan keluarga saya dalam keadaan begini? Saya bisa tabah ditinggal Mama karena melihat bapak, adik-adik dan kakak-kakak saya juga mencoba tabah. Saya kuat karena ada mereka. Sekarang saya harus pergi? Sendirian? Apa rencanaMu ya Allah…?

    Bapak saya bilang saya harus kuat. Pergi, ini kesempatan bagus buat Dedek. Mama juga pasti senang kalau Dedek bisa pergi, bisa dapet beasiswa (ah, saya jadi ingat betapa gembiranya Mama waktu saya dapet beasiswa SMA, juga waktu saya lulus UMPTN dan tidak harus jual mobil untuk biaya kuliah).

    Mungkin ini memang rencana Tuhan. Tuhan tahu apa dan kapan yang terbaik buat kita. Saya ditolak dulu beasiswanya, biar bisa nungguin Mama sampai Mama meninggal.

    Masih seperti mimpi, saya memutuskan untuk berangkat. Mempersiapkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan. Ngurus resign dari kantor. Pamit ke keluarga besar. Belanja koper dan keperluan lain. Browsing cari info kehidupan macam apa yang akan saya temui di sana. Semua saya jalani antara sadar dan tidak. Seperti mimpi. Pengurusan visa yang sempat memakan waktu lama dan membuat keberangkatan saya tertunda. Semuanya.

    Akhirnya, September 2003, I was leaving for Netherlands ! Den Haag, to be exact!

    PS: Beasiswa Chevening sempat saya ikuti prosesnya. Udah sampai tahap interview. Tapi saya nggak dateng. Soalnya Chevening itu apply tahun ini, berangkat tahun depan. Kalau STUNED, apply tahun ini, berangkat tahun ini. Saya kan kalau moodnya udah hilang, udah males πŸ˜› Untung juga ternyata berangkat pas umur 24 tahun, tiket murah di Eropa (untuk youth) hanya berlaku sampai umur 26 tahun. I still have lots of time. Pas! πŸ˜€

3 Responsesso far.

  1. Didin says:

    mba, klo S1 nya teknik bisa ga ke ISS?

  2. d3d3k says:

    bisa kok mbak…asal bidang kerjanya terus sesuai aja dengan major yang mau diambil di ISS..gutlak ya

  3. dino says:

    salam kenal..!! saya rencananya juga mau berangkat ke ISS tahun depan (sekarang sedang kul di PPIE UI program Double Degree)..mudah2an bisa sharing pengalaman kuliah disana,dan lain2nya..:-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *