• ngobrol!

    Seorang teman dekat saya akan menikah (uhuyyy..cihuyyy..!!!). Mulailah diskusi kami yang biasanya berkisar antara ‘si ini jadian dengan ini’, ‘artis ini kok gitu ya’, ‘ada promo ke sini’, ‘ada diskon di sini”, bergeser jadi ke hal yang lebih serius. Salah satunya, soal kebiasaan mengelola keuangan pasangan (yang lain banyak, tapi di sini bahas yang ini aja hehehe).

    Saya akui, satu ilmu SANGAT penting yang saya pelajari dalam 1 tahun belakangan ini (dari pertengahan tahun kemarin, tepatnya) adalah soal mengelola keuangan. Sampai dengan akhir tahun kemarin, jangan harap saya punya tabungan kecuali untuk liburan yang sudah saya rencanakan. Tujuan keuangan saya cuman satu: pergi ke ABC, XYZ, DEF. Tercapai pergi ke satu tempat, muncul tempat yang lain. Duh!

    Ketika sudah mulai berpikir untuk serius dengan Rahman, topik soal hal yang (katanya) sensitif ini juga salah satu yang jadi bahasan. Sebenarnya, Rahman duluan yang mulai ngebahas soal ini. Saya waktu itu masih gengsi 😛 (Gile aje, ntar dikira gue matre! Padahal kan saya juga punya penghasilan sendiri. Bisa kok beli mobil dan apartemen -walaupun seuprit- sendiri. Jadi sorry deh ye kalau matre! hehehe). Dari hasil obrolan berkelanjutan itu (lanjut sampai sekarang, bahkan), banyak yang bisa saya pelajari. Walaupun profil resiko kami bagai bumi dan langit, untungnya saya dan Rahman punya banyak pandangan yang sama soal pengelolaan keuangan.

    Salah satunya:

    Seorang laki-laki WAJIB menafkahi istri dan anak-anaknya. Sementara jika seorang perempuan mampu bekerja, ia TIDAK WAJIB memberikan hasil kerjanya itu kepada keluarganya.

    Jadi?

    Kalau kata Rahman, uang dia = uang saya. Semua kebutuhan pokok keluarga harus dari gaji dia. Karena itu tanggung jawab dia, katanya.

    Uang saya = ya uang saya, pake aja semau saya buat apa. Tapi yang penting, kalau nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dengan Rahman dan pendapatannya (diPHK, misal, audzubillahimin dzalikkkk), pendapatan saya bisa jadi ‘bemper’ sementara, sampai dia dapat pekerjaan baru.

    Hahahaha…big grin on my face hihihi (I guess this is one of the many reasons why I said yes when he asked me to marry him hehehe I don’t mind to start everything from zero, but I need to make sure that he is responsible, right?)

    Lalu, siapa yang mengelola keuangan?

    Di keluarga kami berdua, kebetulan Ibu yang berperan besar dalam pengelolaan keuangan. Kalau di antara kami berdua? Rahman tipe yang nggak mau repot, maunya liat best practice orang-orang kayak gimana, he’ll follow the same path. Tipe konservatif, yang cari aman dalam berinvestasi. Saya kalau soal uang, risk taker. Sering Kadangan suka nggak mikir panjang. Boros pula. Impulsive buyer kelas berat. Tapi kalau udah niat sama sesuatu, yah bisa juga lah berpikir jernih. Kadang-kadang hehehe

    Mengakomodir itu semua, jalan tengah memang sepertinya yang terbaik.

    Gaji Rahman untuk memenuhi kebutuhan pokok kami sehari-hari, ditambah dengan alokasi untuk proteksi, dana pendidikan anak dan beli rumah (dia bilang itu tanggung jawab dia, karena kebutuhan pokok-papan. He said he doesn’t want my money :P)

    Gaji saya untuk memenuhi tujuan keuangan yang lain (dana pensiun, dana weekend, dana liburan – I don’t mind saving to go places anyway…yay!, dan seharusnya bisa mulai membangun mimpi saya untuk punya active assets)

    Pilihan investasi kemana?

    Saya kan yang hobi browsing dan baca yang begini-begini, jadi untuk gaji Rahman saya buat ‘proposal’ mau investasi kemana. Instrumen yang aman-aman aja deh. Reksadana campuran paling maksimal (untuk mengurangi rasa bersalah saya juga kalau nanti ternyata lost :P). Uang saya? Nah, ini dia yang bahaya hehehe Toh, saya pikir dana pensiun ‘baru’ akan kami pergunakan kira-kira 25 tahun lagi. Kalau untuk jangka panjang, boleh dong investasi ke instrumen yang resikonya (agak) besar? 😉

    Untuk liburan? Kalau investasinya nggak berhasil, ya tinggal ubah tujuan liburannya ke tempat yang lebih murah 😛

    Ada untungnya juga punya profil resiko yang beda begini. Saya jadi lebih ‘mikir’ dulu sebelum bertindak. Sebelum beli yang mahal-mahal (kalau yang nggak mahal mah ya sudahlah…I work for that, I deserve it dong :P). Nggak terlalu grabag-grubug. Walaupun tetap masih kacau juga 🙁

    Kepanjangan.

    Ah, pokoknya obrolan masalah pengelolaan keuangan emang nggak pernah abis deh…

    Selamat ngobrol dengan (calon) pasangan ya 🙂

    Update:

    Banyak komentar japri yang masuk ke email saya soal posting ini. Yang cewek pro. Yang cowok bilang enak bangeut 😛 Just to make things straight, jangan salah persepsi soal postingan saya di atas. Sama sekali bukan mengajarkan apalagi provokasi bagaimana cara mengelola keuangan dengan baik dan benar. Karena memang nggak ada yang benar dan salah. Semua tergantung. Tergantung pasangan yang akan menjalaninya. Kebetulan, buat Rahman dan saya, itu yang terbaik buat kami. Menurut kami.

    Yang saya mau highlight di postingan ini, hanya bahwa: sangat penting untuk mulai ngobrol (bagi yang belum) dengan (calon) pasangan masalah yang satu ini. Udah, itu aja. Bagaimana nanti menjalaninya, ya terserah hasil obrolan berdua. Dicari yang enak buat kedua pihak. Itu kan gunanya NGOBROL..? 😉

2 Responsesso far.

  1. didut says:

    haha~ jadi gitu to?!? *cari calon istri yg bekerja ah* 😛

  2. d3d3k says:

    banyak cowok malah takut cari istri yang bekerja Di…takut kesaing hehehe 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *