• you DO have a choice

    Buka puasa, ngobrol ngalor-ngidul, ada teman yang bertanya soal rencana saya setelah melahirkan nanti (amien…semoga lancar, semoga nggak ada apa-apa, amien…amien…). Rencana? Ya, rencana…apakah akan terus bekerja, atau berhenti dan mengasuh anak.

    Saya bilang saya belum tahu. Masih 6 bulan lagi, ntar aja saya pikirin 😉 Teman saya, yang mungkin ternyata mengenal saya lebih baik dari yang saya kira (hehehe, sorry dude!) bilang nggak mungkin saya nggak punya rencana.

    Jujur, saya memang nggak punya.

    Yang pasti, akhir Desember nanti saya memutuskan berhenti dari salah satu pekerjaan saya. Jadi, waktu saya hamil 7 bulan nanti (insya Allah…semoga lancar, semoga nggak ada apa-apa, amien…amien…), otomatis saya ‘hanya’ mengerjakan 1 pekerjaan, yang bisa dikerjakan dari rumah pula.

    Lalu, setelah pekerjaan itu selesai? (it’s a consultancy job, doing one cost-benefit analysis, economic study for 1 year)

    Saya bilang, saya belum tahu.

    Kalau saya bisa cukup hemat menabung, seharusnya tabungan saya setahun ini cukup untuk saya setahun ke depan tanpa harus bekerja. Ditambah uang jajan dari Rahman (hehehe, curang ya saya…udah punya penghasilan sendiri, masih dikasih uang jajan :P), harusnya lebih dari cukup, tanpa harus menurunkan standard dan gaya hidup. Itu dari segi keuangan. Dari segi aktualisasi diri dan kebutuhan lahir-batin saya yang nggak bisa diam? Nah, ini dia yang jadi pertimbangan utama.

    Yang pasti, saya mau ngasih ASI dan stimulus ngajarin anak saya macem-macem sampai minimal 2 tahun (insya Allah…semoga lancar, semoga nggak ada apa-apa, amien…amien…). Dan yang pasti juga, saya harus tetap punya penghasilan sendiri. Jadi keputusan apapun yang (nanti) saya ambil, harusnya bisa mengakomodir 2 hal itu 😉

    Lalu, pekerjaannya apa? tanya teman saya itu, lagi.

    Saya belum tahu. I’ll just cross the bridge when I get there, kata saya. Rejeki ada di mana-mana, dan nggak mungkin ketuker. Sekarang saya masih ada saluran rejeki saya. Untuk nanti, ya nanti saya cari. Toh, selama ini saya juga cukup sering berhenti dan pindah kerja. Cukup sering juga dapet rejeki di luar pekerjaan utama :) Positive thinking aja, kalau nanti akan selancar sekarang (insya Allah…amien…amien…).

    Ada teman yang lain ikut nimbrung (kok saya jadi seperti disidang ya :P)

    “Lo enak Dek. Punya pilihan. Bisa milih mau ngapain. Lha, kita? Mau pindah kerjaan aja susah banget nyarinya,”

    Saya diam. Tapi mikir.

    Benarkah tidak ada pilihan?

    Sampai detik ini (dan semoga sampai berpuluh-puluh tahun mendatang), saya selalu percaya bahwa hidup adalah pilihan. Dan kita selalu punya kesempatan untuk memilih.

    Ada cerita seorang teman. Single-parent, dengan 1 anak balita. Dia sudah single-parent sejak mengandung dan melahirkan anaknya (nggak usah dibahas kemana suaminya. Semoga pria b*ngs*t itu dil*kn*t seumur hidupnya, amien…). Saya tahu perjuangannya mengandung, melahirkan, dan bekerja keras setiap hari untuk anaknya. Hebatnya, dia masih bisa kuliah lagi, sambil bekerja dan mengasuh anaknya. Sekarang dia memutuskan untuk berhenti bekerja, agar bisa punya waktu lebih banyak untuk anaknya. Memutuskan untuk mengerjakan apa saja (iya, apa saja. Mulai dari jualan sampai jadi calo) agar anaknya tetap bisa makan dan sekolah.

    Saya salut. Sebagian besar orang mungkin akan mikir bahwa mereka NGGAK PUNYA PILIHAN, selain terus bekerja, walaupun mereka nggak suka dengan pekerjaannya. Tapi dia? Dia berani memutuskan sesuatu yang menurutnya memang terbaik untuknya. Walaupun memang akan selalu ada pengorbanan.

    Ada cerita tentang seorang tercinta lagi. Saya kaget luar biasa ketika dia memutuskan untuk pindah dan bekerja di luar Jakarta (di luar Pulau Jawa bahkan). Dia punya alasan sendiri, saya tahu. Saya hanya tidak bisa mengerti. Berjauhan dengan suaminya, padahal saya tau ada tawaran pekerjaan di Jakarta yang dia tolak. Kenapa? Sampai sekarang saya nggak tau. Yang saya tau, dia bilang dia senang di sana. Jauh dari polusi, nggak ada macet. Jam empat sudah bisa pulang kantor. Makan siang pulang. Anaknya bisa terus minum ASI (you know who you are. Miss you mbak…). Ahhhh…lagi-lagi pilihan…

    Cerita lagi.

    Kali ini tentang seorang sahabat yang sangat mendamba untuk punya anak. Awalnya nggak. Tapi setelah menikah hampir 10 tahun, dan belum juga punya anak, dia mulai resah. Periksa dokter, katanya kesehatannya bagus. Mungkin karena load pekerjaan yang terlalu banyak, stress, jadi terbawa ke hormon. Lalu? Dia berhenti kerja. Total program untuk hamil. Walaupun itu berarti harus merubah banyak hal, berkorban banyak hal, tapi itu pilihan kan?

    Ah, saya udah terlalu panjang cerita.

    Semoga saya juga selalu ingat kalau:

    There are always choices.

    Even when you choose not to choose anything. But THAT IS YOUR CHOICE!

9 Responsesso far.

  1. didut says:

    setuju ama dedek 😀

  2. Rika Gelar says:

    Dedeeeek…….wadohhh….I didn’t know that you are already a mother!!! congratulations yah!!!!

    Keep writing! It’s a choice, but I insist!!
    hehehe

  3. dyan says:

    Huhuu…kesentil gw ma tulisan loe Dek…
    Pilihan emang selalu ada. Masalahnya butuh keberanian untuk memilih yang menurut kita ‘ideal’. Meninggalkan zona nyaman itu ga gampang, menurut gw.
    Salut gw sama loe Dek! :)
    Anyway, ngasih ASI n ngajarin anak sambil kerja juga bisa kok! Yang pasti emang mesti mau berkorban. :)

  4. bundadiba says:

    aduh dek…jadi berkaca2 bacanya. jadi kangen dedek, kangen jaman dahulu ama para begundalz….
    setuju dek, everybody does have choices, even if they choose not to choose anything; and everybody does have a good reason behind their choice, even though it might be hard for others to fathom.
    cuma mau ralat aja, yang bisa pulang jam 4 sapa dek??? seneng bener kalo gitu….di sini mah jam 5 kok pulangnya, hehehhe

  5. d3d3k says:

    hihihi, senang byk yang komen 😛
    Didut: so, what’s the choice di? pindah ke jkt? hehehe
    Rikaaaaa Gelarrrr Rahayuuuuu: terimakasih sudah mampirrrrr…aku belum jadi ibuuuu, baru hampiiirrrr…amienamienamien :p
    Dian: couldnt agree more with you bout the comfort zone. btw, gue pernah nulis juga kayaknya soal si zone ini di http://d3d3k.wordpress.com/2008/05/16/comfort-zone-ketika-hidup-serasa-di-jalan-tol/

    Mbakkeee, aku salah tulis ya hihihi kebayang kalo pulang cepet itu plg jam 4 gitu lho mbak..btw, ayo dong blognya diisi…pengalaman breastfeeding, jadi aku bisa baca2 juga hihihi

  6. dixa says:

    ehehe… istri gue juga cuma sempet sehari masuk kerja post-natal.. setelah itu kapok.. gag maw lagi masuk kerja.. ngundurin diri gara2 gag tahan jauh2 sama baby..

    gue juga mutusin untuk balik kampung lagi. Gag tahan idup di Jakarta,sumpek,bau,macet,item,panas..de es be..

    yah…. cinta memang jadi satu2nya alasan untuk bertindak diluar rencana..

  7. d3d3k says:

    andikkaaa…hei apa kabarrrr??? makasih ya udah mampir :)

  8. bonnie2405 says:

    waktu elo engga memilih yah elo sebenarnya sudah memilih untuk tidak memilih hehehehe jadi yah sebenarnya hidup tuh selalu ada pilihan kok :)

    susahnya yah berani apa tidak berani mengambil pilihan…

  9. ADRIAN says:


    CheapTabletsOnline.Com. Canadian Health&Care.Best quality drugs.Special Internet Prices.No prescription online pharmacy. High quality pills. Buy pills online

    Buy:Zetia.Prozac.Lasix.Amoxicillin.Advair.Female Cialis.Ventolin.Benicar.Acomplia.Female Pink Viagra.Lipothin.Zocor.Nymphomax.Wellbutrin SR.Lipitor.SleepWell.Cozaar.Seroquel.Aricept.Buspar….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>